Terungkap. Ternyata Bekatul Sangat Manjur Menurunkan Kolesterol

Mungkin Anda baru tahu kalau bekatul mampu menurunkan kolesterol. Iya, kali ini saya akan menjelaskan tentang cara menurunkan kolesterol dengan bekatul.

Waktu masih menunjukkan pukul 07.30 Supriyadi merasa lemas, lelah dan lunglai. Ia biasanya memulai bekerja mengantarkan pelanggan dengan sepeda motor pada pukul 04.00. Terkadang dia menerima juta pekerjaan renovasi rumah pelanggan sebagai tambahan penghasil rumah tangga.


Terungkap Ternyata Bekatul Sangat Manjur Menurunkan Kolesterol

Namun, sesibuk apapun Pak Supriyadi tidak pernah merasakan selelah itu. Ayah 2 anak ini memutuskan untuk pulang dan istirahat dirumah. Kepala Pak Supriyadi malah terasa berdenyut. Itu sebabnya ia memeriksakan diri di sebuah klinik yang jaraknya agak sediti jauh dari rumahnya.

Hasil pengecekkan menunjukkan tekanan darah dan denyut jantungnya normal. Sedangkan pemeriksaan laboratorium menunjukkan bahwa kadar kolesterol dalam darah Supriyadi melebihi 300 mg/dl, sedangkan untuk kadar normalnya adalah antara 196 - 230 mg/dl.

Kolesterol total
Untuk itu dokter memberikan obat penurun kolesterol generik. Jika obat habis maka Supriyadi tinggal membawa salinan resep ke apotek untuk menormalkan kadar kolesterol dalam darahnya.

Menurut Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Kementrian Kesehatan pada tahun 2013, kisaran rata-rata kadar kolesterol todal darah masyarakat Indonesia 200 - 230 mg/dl. Sebanyak 36% masyarakat berusia lebih dari 15 tahun mengidap kelebihan kolesterol alias hiperkolesterolemia.

Kadar kolesterol darah total mereka melebihi 240 mg/dl. Dan salah satu pemicunya adalah konsumsi makanan kaya lemak atau tinggi kolesterol, antara lain makanan yang digoreng. Makanan jenis ini menjadi kebiasaan hampir 41% masyarakat Indonesia. Salah satunya Pak Supriyadi. Pria tersebut senang mengkonsumsi gorengan berupa tempe, tahu, telur, atau tumis ketika sarapan, makan siang, bahkan makan malam.

Pak Supriyadi juga senang makan pisang, singkong, atau ubi jalar goreng sebagai kudapan pada pagi, sore atau malam hari. Dan parahnya lagi, dia tidak suka bentuk olahan yang lebih sehat seperti dikukus ataupun direbus. Menurut dr. Fetty Amalita Madjid, dokter sekaligus praktikus pengobatan holistik di Cibubur, Jakarta Timur, makanan gorengan hampir selalu dibumbui penyedap sintesis dan garam.

Dan celakanya, makanan asin dan berpenyedap sintetis menjadi kesukaan oleh masyarakat strata menengah ke bawah. "Wajar kalau pengidap hiperkolesterolemia kini banyak yang berasal dari warga berpenghasilan rendah", tutur dokter alumnus Fakultas Kedokteran Universitas Yarsi itu. Hiperkolesterolemia memicu berbagai penyakit serius, seperti tekanan darah tinggai atau serangan jantung.

Beras Kusam

Pada dasarnay tubuh manusia memerlukan kolesterol untuk membentuk dinding sel, vitamin D, atau asam empedu. Toh, tanpa asupan kolesterol dari luar pun hati atau liver mampu memproduksi kolesterol sendiri. Sejatinya kadar kolesterol total menggambarkan jumlah kolesterol baik (high density lipoprotein, HDL), kolesterol jahat (low density lipopretein, LDL), dan kandungan trigliserida dara.

Tidak masalah jika HDL lebih tinggi ketimbang LDL. Sebab, HDL mencegah kerusakan jaringan. Namun, kalau LDL mendominasi kadar kolesterol, berbagai gangguan kesehatan bakal muncul. Dokter biasanya meresepkan obat generik yang menghambat pembentukan kolesterol di hati sehingga kadar kolesterol darah terkedali. Sayang, obat itu sering memicu gangguan lain, seperti kejang otot alias tremor maupun kerusakan hati.

Sebenarnya ada bahan makanan yang mampu untuk menurunkan kolesterol tanpa menimbulkan efek samping. Dan sayangnya bahan itu malah terbuang dalam proses penggilingan padi menjadi beras. Bahan itu adalah bekatul, iya Anda tidak salah baca atau saya salah tulis. Bekatul ini adalah selaput kulit ari beras.


Beras yang biasa kita konsumsi setiap hari merupakan hasil penyosohan sehingga beras menjadi putih bersih tanpa sisa bekatul. Sebagian kita menganggap semakin putih beras, kian baik kualitasnya dan sebaliknya.

"Orang mengira bahwa beras kusam kecokelatan adalah beras kelas rendah. Padahal kalau warna kusam itu berasal dari sisa kulit ari, berar itu justru lebih menyehatkan," kata letkol purnawirawan dr Nursalim, pensiunan dokter di TNI Angkatan Darat yang berdinas di Sekolah Calon Perwira (Secapa), Bandung, Jawa Barat.


Post a Comment

0 Comments